BUPATI PANEN CABAI

Kamis, 12 Januari 2017 | 15:46:15

Bupati Purworejo, Agus Bastian beserta rombongan melakukan panen perdana cabai di Laboratorium Holtikultura Desa Tegalsari Kecamatan Bruno Kabupaten Purworejo, Senin (09/01). Bupati menilai penanaman cabai jenis baru tersebut luar biasa. Salah satunya karena ditengah melambungnya harga cabai dan cuaca yang tidak bersahabat akhir-akhir ini, hasil panen cabai jenis baru tersebut dinilainya cukup menggembirakan.

“Disaat harga cabai yang begitu melambung dan cuaca yang tidak bersahabat maka ada cabai jenis baru yang cukup baik untuk ditanam dan hasilnya cukup menggembirakan. Ditengah cuaca seperti sekarang ini jenis ini bisa tumbuh dan berbuah seperti yang diharapkan,” katanya.

Hadir Kasdim 0708/Purworejo Mayor Inf Sulistiyo, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Purworejo Endang Tavip Handayani, Asisten 2 Sekda Purworejo Gandi Budi Supriyanto SSos, Staf Ahli Bupati Purworejo Ir Dri Sumarno, Kepala Bappeda Purworejo Drs Said Romadhon, Muspika Kecamatan Bruno, Kepala Desa Se Kecamatan Bruno, Dinas Pertanian Dan PPL se Kabupaten Purworejo, Gapoktan se Kecamatan Bruno, Siswa SMA Sudirman Bruno, dan Masyarakat sekitar.

Pada kesempatan tersebut Bupati juga memberikan apresiasi kepada pengusaha yang telah melakukan kerjasama dengan petani di Kecamatan Bruno. Para pengusaha juga memberikan pembinaan kepada para petani. Ia berharap kedepan jenis cabai baru tersebut bisa ditanam diseluruh Kabupaten Purworejo.

“Kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada pengusaha yang melakukan bekerjasama dengan seluruh petani di Kecamatan Bruno ini. Semua pembiayaan pada tanam cabai kali ini dibayai oleh pengusaha. Petani hanya tinggal mengerjakan dan mengerjakannya pun dibayar. Jika terjadi kerugian, tidak seluruhnya ditanggung oleh petan, bahkan ditanggung oleh pengusaha tersebut. Ini yang perlu kita apresisiasi,” tuturnya.

Bupati mengungkapkan, untuk penjualan cabai tersebut para petani tidak perlu takut. Hal ini karena penjualan sudah didistribusikan langsung oleh pengusaha atau investor. “ini ketika dipanen oleh petani sudah ada pabrik yang akan mengambil semua hasil panen,” ungkapnya.

Bupati menambahkan, disaat harga cabai naik banyak petani yang tidak bisa menikmatinya kenaikan harga cabaik karena gagal panen. Menurutnya, sudah saatnya para petani menanam cabai yang tahan terhadap penyaki dan cuaca. Sehingga diharapkan para petani yang ada diseluruh Kabupaten Purworejo, dapat mensejahterakan keluarganya.

Dijelaskan Bupati bahwa saat ini Bruno hanya sebagai demplot saja. Tetapi kedepan tidak hanya Bruno, tetapi Kecamatan lain yang memungkinkan untuk ditanami cabai jenis baru tersebut juga akan ditanami.

“Dimasa yang akan datang kami berharap jenis cabai baru ini bisa ditanam diseluruh Kabupaten Purworejo. Ini perlu dicontoh diwilayah-wilayah lain. Saya ingin kedepan tidak hanya durian dan manggis saja yang dikenal, tetapi cabainya juga dikenal diwilayah Purworejo,” tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati memberi nama cabai jenis baru tersebut dengan nama “Highbro”, yang berasal dari kata High (kualitas tinggi) dan Bro adalah Bruno yang berarti kualitas tinggi dari Bruno.

Camat Ngombol Wasit Diono SSos menjelaskan, cabai jenis baru tersebut sangat bersahabat dengan alam. Hal ini disebabkan karena disaat cabai lokal yang sudah tertanam bunganya rontok, tetapi cabai tersebut dapat tetap berbuah ditengah iklim ekstrem saat ini.

“Saat ini yang baru ditanam ditegal sari baru sebanyak  5.000 batang. Tetapi sebanyak  empat hektar lahan menanti kedatangan pengembangan berikutnya.  Saya ingin nantinya Kabupaten Purworejo bisa menjadi sentra cabai,” terangnya.

Sementara itu Topa, selaku pemilik salah satu lahan yang ditanami cabai Highbro menjelaskan, lahan miliknya yang ditami seluas 1.000 m2 dengan jumlah tanaman cabai sebanyak 3.000 batang. Sedangkan lahan milik Eko yang juga tanahnya ditanami cabai jenis baru tersebut, memiliki luas 700 m2 dengan jumlah tanaman cabai sebanyak 2.000 batang.

“Ada beberapa keunggulan bibit cabai tersebut, dalam satu minggu sudah ada buahnya. Hingga saat panen ini hanya membutuhkan waktu satu setengah bulan. Kemungkinan hidupnya lebih dari separuh. Biasanya dicuaca seperti ini kita gagal total,” jelasnya.