HIMPUNAN PRAMUWISATA INDONESIA KAGUMI WISATA PURWOREJO

Sabtu, 30 Januari 2016 | 14:13:55

Sekitar 200 orang dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jogja Tourist Guide Rider (Jaguar) Yogyakarta melakukan tour di sejumlah obyek wisata Kabupaten Purworejo. Mereka mengunjungi Gua Seplawan di Desa Donorejo, sert Curug Siklotok, Taman Sidandang, dan Rumah Budaya di Desa Kaligono. Perjalanan wisata diakhiri dengan menikmati debur ombak di Pantai Jatimalang.

Dalam rangkaian kunjungan wisata itu PHI Jaguar juga didampingi Dinas pariwisata Yogyakarta, yang diterima Kepala Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan dan Pariwisata (Dikoperindagpar) Purworejo Dra Suhartini MM dan Kabid Pariwisata Purworejo Lilos Anggorowati SSos MM, di rumah budaya Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing, Rabu (27/1).

Ketua PHI Jaguar Widodo mengatakan, PHI Jaguar merupakan wadah para pemandu wisata (guide), biro wisata, restoran dan hotel di Provinsi Yogyakarta, yang sering melakukan perjalanan bersama ke obyek-obyek wisata terutama di wilayah DIY. Menurutnya, wisata di Purworejo memiliki keunikan dengan natural alamnya yang indah, sehingga juga enak untuk tempat refresing bersama keluarga, sahabat, maupun teman bisnis teman bisnis, dll. Tentu untuk memperkenalkan tempat-tempat wisata dibutuhkan promosi baik di wisatawan domestic maupun wisatawan dari luar. “ Maka dengan melihat secara langsung, kami akan bekerjasama untuk ikut mempromosikan wisata Purworejo,” ujarnya.

Dra Suhartini MM dalam sambutannya mengatakan, Kabupaten Purworejo selain dikenal sebagai daerah agraris, sesungguhnya memiliki potensi alam yang luar biasa besarnya. Pantai di sepanjang wilayah selatan, selain memberikan kekayaan alam berupa hasil laut, juga menjadi salah satu obyek daya tarik wisata seperti Pantai Jatimalang, Jatikontal, Keburuhan dan Ketawang.

Sedangkan di wilayah utara dan timur yang merupakan daerah pegunungan, menawarkan keindahan dan panorama alam yang memikat. Potensi tersebut menunggu untuk disentuh oleh tangan-tangan kreatif masyarakatnya. “Dan potensi inilah yang sudah mulai diwujudkan di beberapa desa, termasuk desa yang sekarang dikenal dengan nama Desa Wisata Kaligono (Dewi Kano) ini,” ungkapnya.

Beberapa tahun yang lalu, Desa Kaligono tidak tampak memiliki potensi pariwisata yang menonjol dan bisa diandalkan. Namun dengan kreatifitas warga masyarakatnya, didukung oleh instansi terkait dan stakeholders lain yang peduli, akhirnya mampu menggali potensi yang dimiliki, sehingga sekarang ini menjelma menjadi desa wisata yang memiliki banyak destinasi menarik.

Menurut Suhartini, selain wisata alam, Kabupaten Purworejo juga memiliki banyak warisan budaya, sehingga tak mengherankan kalau beberapa organisasi diantaranya Jogjakarta Herritage Society, menilai Purworejo layak masuk jaringan kota pusaka Indonesia. Selain bangunan-bangunan kuno dan Musum Tosan Aji, Purworejo memiliki Bedug Pendowo yang konon merupakan bedug terbesar di Asia Tenggara, yang terbuat dari kayu gelondongan utuh.

Sementara itu Lurah Kaligono Suroto mengaku siap menerima wisatawan, karena memang Kaligono sudah masuk salah satu ikon wisata Kabupaten Purworejo. Penyempurnaan akan terus dilakukan, termasuk memperbanyak restoran dan homestay. “Kami optimis wisatawan yang berkunjung akan terus bertambah. Bahkan dalam kegiatan grebeg durian pada akhir bulan ini, peserta yang mendaftar sudah mencapai seratus orang lebih, termasuk dari Yogyakarta, Wonosobo, Temanggung,” paparnya.