SOSIALISASI EMPAT PILAR KEBANGSAAN

Senin, 25 Juli 2016 | 14:28:42

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Purworejo mengadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Halaman Pendopo Kabupaten Purworejo, akhir pekan lalu. Pagelaran wayang kulit ini digelar dalam rangka sosialisasi empat pilar kebangsaan yang meliputi Pancasila, UUD Negara RI 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Wayang kulit semalam suntuk oleh Dalang Ki Sunarno Aji Prabowo asal Grabag Purworejo itu membawakan lakon “Banjaran Bolodewo”.

Hadir dalam kesempatan itu, Bupati Purworejo Agus Bastian SE MM, Kapolres Purworejo AKBP Satriyo Wibowo SIK, dan Kepala SKPD se Kabupaten Purworejo. Sedangkan, para anggota DPR/MPR RI yang hadir diantaranya, Dr Bambang Sadono SH MH sebagai anggota DPD MPR RI, Drs H Zulfikar Akhmad sebagai anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, dr H Abdul Kharis Al Masyari sebagai anggota DPR RI Fraksi PKS, Ir H Hari Purnomo sebagai anggota DPR RI Fraksi Gerindra,

Dr Bambang Sadono SH MH mengatakan, sosialisasi empat pilar melalui gelaran seni budaya wayang kulit memiliki kelebihan tersendiri. Karena disampaikan oleh seorang seniman yang menguasai bahasa dan budaya daerah biasanya lebih komunikatif. Diharapkan, pesan empat pilar kebangsaan dapat dipahami oleh masyarakat.

“Kesenian ini digunakan karena berkomunikasi dan bersosialisasi kesenian memiliki kelebihan tersendiri. Karena disampaikan oleh seorang seniman yang menguasai bahasa dan budaya daerah biasanya lebih komunikatif. Lewat kesenian wayang, selain dapat memberikan pesan tetapi juga dapat menghibur masyarakat. Para dalang diberikan kebebasan untuk berkreasi dalam menyampaikan pesan empat pilar kebangsaan, yang panting masyarakat paham.“ katanya.

Bupati Purworejo, Agus Bastian SE MM mengapresiasi terhadap pagelaran wayang kulit sebagai sosialisasi empat pilar kebangsaan itu. Selain menjadi wahana sosialisasi juga mengembangkan budaya seni wayang kulit yang mempunyai nilai adi luhung, sosialisasi empat pilar diharapkan bisa diserap dan masyarakat bisa mengamalkan nilai-nilai luhur berbangsa dan bernegara.

“Mudah-mudahan melalui sosialisasi yang tiada henti-hentinya, mampu memberikan penyadaran dan pencerahan agar bangsa Indonesia tidak terlena terhadap berbagai faktor yang bisa merusak kultur masyarakat yang berbudaya, beradab dan bermartabat, termasuk akibat pengaruh globalisasi dan reformasi,” harapnya.